JIWA DAN BADAN
JIWA DAN BADAN
Pandangan
tentang jiwa dan badan. Sebenarnya terdapat beberapa aliran tentang jiwa dan
badan. Yaitu dualisme dan monism. Aliran dualisme mengatakan bahwa badan dan jiwa adalah dua elemen berbeda dan terpisah, dalam
pengertian dan objek. Ada beberapa pandangan
mengenai dualisme. Yang pertama adalah pandangan dualism menurut Descrates (1596-1650). Menurunya manusia
terdiri dari dua substansi yang berbeda yaitu ‘Res Extensa’ (barang yang
mempunyai keluasan) dan ‘Res Cogitans’ (apa yang berpikir). Dua substansi itu
mempunyai kontak di dalam kelenjar otak. Sehingga ada kerjasama akan keduanya,
tetapi karena ada dua substansi maka kita merasa ada pertentangan antara
keinginan badan dan kemauan jiwa (Gaarder 2008 dalam Monagin 2017).
Pemikirannya menghasilkan kesimpulan cogito ergo sum, membuatnya
membedakan manusia menjadi dua substansi yang berbeda, yaitu jiwa dan tubuh.
Jiwa, yang esensinya adalah kesadaran dan berpikir, keberadaannya tidak
bergantung pada ruang dan waktu karena ia merupakan “substansi” yangimmaterial atau
bukan fisik. Jiwa merupakan sebuah substansi yang kekal dan tidak pernah tampak
secara langsung dalam kesadaran kita. (Syahara, 2017). Dia juga memiliki
anggapan bahwa tubuh manusia menyerupai sebuah mesin. Tubuh manusia memiliki
sepuluh fungsi fisiologis seperti pencernaan makanan,sirkulasi darah,daya tahan
dan pertumbuhan tubuh,respirasi,tidur dan terjaga,sensasi pada dunia luar,
imajinas,memori,nafsu dan gairah dan pergerakan tubuh. Beliau menganalisa
kesepuluh fungsi tersebut dan menemukan sebuah kesimpulan bahwa kesepuluh
fungsi fisiologis tersebut berjalan secara mekanis dalam tubuh manusia, seperti
gerak sebuah mesin. Struktur tubuh yang hidup dapat digambarkan sebagai
sistem-sistem fisik yang bekerja menurut hukum-hukum alam (Monagin &
Gaarder, 2017). Pandangan selanjutnya berasal dari Leibniz. Menurutnya, seluruh
realitas pada akhirnya terdiri dari unsur-unsur kecil itu. Unsur kecil itu dia
sebut modus (monad bahasa Inggris atau monade bahasa Belanda). Dan manusia itu
terdiri dari beberapa monas. Jiwa manusia menurutnya adalah satu monas yang
halus, sedangkan badan itu terdiri dari sekumpulan monas yang kasar.
Persesuaian antara jiwa dan badan itu diatur oleh Tuhan. Dan pandangan tentang
dualism yang terakhir berasal dari Spinoza. Perlu diketahui bahwa monisme
ontologis artinya seluruh realita semesta alam itu sama saja, tetapi dualisme
antropologis artinya manusia terdiri dari dua bagian. Menurutnya, satu
substansi itu mempunyai banyak atribut dan banyak modus atau cara mengada. Dan
diantara banyak cara itu kita menemukan dua cara didalam manusia yaitu pikiran
dan keluasan atau jiwa dan badan.
Perlu
diketahui bahwa terdapat argument argument tentang kemungkinan serta
ketidakmungkinan jiwa dan badan mencapai titik temu. Argumen-argumen tersebut
dicetuskan oleh beberapa tokoh. Salah satu tokoh yang mendukung bahwa adanya
kemungkinan bahwa kedua entitas tersebut dapat mencapai titik temu adalah
Plato. Menurutnya, semua yang ditangkap oleh pancaindra brdasarkan atas tubuh
kita an tidak dapat dipecaya, namun kita juga memiliki jiwa yang memiliki dunia
akal. Disamping itu beliau juga menyatakan bahwa jiwa telah ada sebelum
mendiami tubuh dan ketika memasuki tubuh, jiwa melupakan ide sempurnanya. Tuhan
ada untuk menggerakkan jiwa melalui penglihatan samar dari indra serta tubuh
membantu jiwa untuk mengingat kembali ide sempurnanya (Gaarder 2008 dalam Monagin
2017). Tokoh selanjutnya yang juga mendukung tentang kemungkinan kedua entitas
tesebut mencapai titik temu yaitu Aistoteles. Aristoteles mengemukakan bahwa
tidak ada sesuatu pun kesadaran yang belum penah dialami oleh indra.
Menurutnya, interaksi yang terjadi antara jiwa dan tubuh melalui pembentukan
persepsi benda-benda yang ada di dalam jiwa manusia. Beliau beranggapan bahwa,
benda-benda yang ada di dalam jiwa manusia semata-mata hanyalah cerminan dari
objek-objek alam.
Jadi
intinya bagi Plato dan Aristoteles yang mendukung adanya kemungkinan tersebut,
jiwa dan tubuh merupakan kedua entitas yang berbeda dan mencapai titik temu
dengan cara saling melengkapi satu sama lain. Menurut Plato, kedua entitas
tersebut mencapai titik temu ketika tubuh membantu jiwa mengingat kembali ide
sempurnanya. Seddangkan menurut Aristoteles, kedua substansi tersebut dapat
mencapai titik temu ketika tubuh membantu jiwa untuk membangun persepsi
mengenai objek-objek alam.
Selain ada tokoh yang
mendukung adanya kemungkinan bahwa kedua entitas tersebut mampu mencapai titik
temu, ada pula tokoh yang mengatakan hal tersebut tidak mungkin terjadi.
Tokoh-tokoh tersebut mengkitisi pendapat tentang kemungkinan kedua entitas
tersebut dapat mencapai titik temu. Tokoh pertama yang kontra terhadap pendapat
ini adalah Thomas Hobbes, beliau adalah seorang materialis. Dia percaya bahwa
semua fenomena, termasuk manusia dan binatang terdiri atas partikel-partikel
materi, serta kesadaran manusia atau jiwa berasal dari gerakan partikel-partikel
yang sangat kecil dalam otak. Menurut pernyataan dari Thomas Hobbes, jiwa hanya
merupakan sebuah partikel yang bersatu dalam tubuh, sehingga pernyataan ini
tidak mendukung adanya perbedaan antara jiwa dan tubuh. Pernyataan ini juga
tidak mendukung adanya interaksi antara jiwa dan tubuh, karena jiwa dan tubuh
ada dalam satu substansi yang sama. Tokoh lainnya yang juga tidak setuju kedua
entitas yang berbeda mencapai titik temu adalah seorang uskup Irlandia yang
bernama George Berkeley, dia adalah penganut empirisme. Dia beranggapan bahwa
jiwalah penyebab dari gagasan-gagasannya, namun hanya kehendak atau ruh lainlah
yang dapat menjadi penyebab gagasan-gagasan yang membentuk dunia jasmaniah.
Berkeley menyatakan bahwa seluruh dunia dan kehidupan kita ada dalam diri
Tuhan, atau secara spesifik berada dalam pikiran Tuhan. Dia berkata bahwa yang
ada hanyalah yang dapat kita lihat, tapi beranggapan bahwa apa yang kita lihat
memiliki “substansi” sendiri berarti terburu-buru menarik. Berdasarkan
pernyataan dari Berkeley, kita dapat menarik kesimpulan bahwa yang ada hanyalah
jiwa, karena tubuh bukan merupakan objek yang nyata. Maka, interaksi antara
jiwa dan tubuh itu tidak ada (Gaarder 2008 dalam Monagin 2017).
Jadi
intinya bagi Thomas Hobbes, kesadaran manusia atau jiwa hanyalah sebuah
partikel yang bergerak dalam otak karena berada di dalam tubuh manusia. Menurut
pernyataan ini, kedua substansi tersebut tidak mungkin mencapai titik temu,
karena hanya ada satu substansi yang nyata. Sebaliknya, menurut George
Berkeley, objek-objek dalam dunia materi tidaklah nyata, termasuk tubuh kita.
Sehingga, tidak terjadi pencapaian titik temu antara kedua entitas tersebut,
karena hanya ada satu substansi, yaitu jiwa.
Sebelumnya
telah dijelaskan pengertain serta argumen-argumen dari beberrapa tokoh tentang
jiwa dan badan. Maka selanjutnya kita akan membahas tentang interaksi antara
jiwa dan tubuh. Terdapat beberapa pendapat tentang inteaksi kedua substansi
tersebut. Pendapat yang pertama besaral dari Rene Deskates. Dia adalah penganut
dualisme. Interaksi antara jiwa dan tubuh menurutnya terdapat di dalam otak
manusia, lebih tepatnya pada kelenjar pineal. Interaksi tersebu bersifat saling
melengkapi, karena jiwa merupakan sebuah substansi immaterial yang
memiliki kesadaran, sementara tubuh merupakan sebuah substansi yang bergerak
secara mekanis namun tidak memiliki kesadaran. Jiwa secara sadar mampu menolak,
menyetujui dan memodifikasi respons-respons dari tubuh. Selain bersifat saling
melengkapi, jiwa dan tubuh juga bersifat saling mengalahkan. Hal ini dapat
terjadi apabila jiwa dengan sadar menolak atau mengubah respons tubuh. Pendapat
lain berasal dari paham inteaksionisme. Menurut paham ini, manusia memang
memiliki sifat dualisme terutama menyangkut hal-hal yang berada di dalam yaitu
jiwa dan yang di luar yaitu tubuh. Tanpa jiwa, ia bukan manusia, melainkan
sekedar mesin biologis, dan sebaliknya, tanpa tubuh, manusia juga tidak akan
utuh karena ia hanya merupakan entitas imaterial yang mengambang tanpa asas
empiris (Todes 2001 & Delphiasari 2013 dalam intan, 2009). Dengan demikian,
jelas bahwa tubuh adalah aspek penting bagi manusia, baik secara biologis
karena menunjang kehidupan, maupun secara filosofis yaitu menjadi medium untuk
menyentuh dunia dan merealisasikan dirinya sendiri. Di sisi lain, jiwa adalah
ornamen kesatuan tubuh, yang berfungsi sebagai penggerak, pelaku pengendali,
pusat pengaturan, atau prinsip vital pada pikiran dan kepribadian
manusia. Pada
dasarnya, hubungan di antara tubuh
dan jiwa ini dapat
berjalan dengan selaras atau
bahkan tidak selaras. Keselarasan tubuh dan jiwa akan terjadi apabila tidak ada gesekan kepentingan yang berarti di antara keduanya. Sebaliknya masalah akan terjadi bila ada
pertentangan kepentingan di antara tubuh dan jiwa yang menjadikannya tidak
selaras.
Terdapat
beberapa aliran mengenai jiwa dan badan. Yaitu dualisme dan monism. Aliran dualisme mengatakan bahwa badan dan
jiwa adalah duaelemen berbeda dan
terpisah, dalam pengertian dan objek. Selain itu terdapat beberapa pandangan mengenai jiwa dan tubuh
menurut jiwa dan badan. Tokoh tokoh tersebut adalah Deskartes, Leibniz dan
Spinoza. Kemudian kita akan membahas tentang argumen-argumen pendukung dan
penyangkal kedua entitas terrsebut yaitu jiwa dan badan dapet mencapai titik
temu. Tokoh yang mendukung bahwa adanya
kemungkinan bahwa kedua entitas tersebut dapat mencapai titik temu adalah Plato
dan Aristoteles. Sebaliknya tokoh yang menentang pendapat bahwa hal tersebut
tidak mungkin terjadi adalah Thomas Hobbes dan George Berkeley. Kemudian
setelah pedebatan paa tokoh tentang titik temu antaa jiwa dan badan,
selanjutnya adalah interaksi antara jiwa dan badan. Menurut Descarrtes
Interaksi antara jiwa dan tubuh menurutnya terdapat di dalam otak manusia, lebih
tepatnya pada kelenjar pineal. Pada dasarnya,hubungan di antara tubuh dan
jiwa ini dapat
berjalan dengan selaras atau
bahkan tidak selaras. Keselarasan tubuh dan jiwa akan terjadi apabila tidak ada gesekan kepentingan yang berarti di antara keduanya. Sebaliknya masalah akan terjadi bila ada
pertentangan kepentingan di antara tubuh dan jiwa yang menjadikannya tidak
selaras.
Referensi
Intan, T. (2009). Relasi Kuasa Antara Tubuh dan
Jiwa dalam Film L'Homme the Chevet. 1-3.
Syahara, Z. (2017, September 2). Wordpress. Retrieved April 7, 2019, from wordpress.com: https://zamzamsyahara.wordpress.com/2017/09/
Monagin, G. (2017). academia.edu. Retrieved April 7, 2019, from academiaedu: https://www.academia.edu/36404988/BADAN_DAN_JIWA
Syahara, Z. (2017, September 2). Wordpress. Retrieved April 7, 2019, from wordpress.com: https://zamzamsyahara.wordpress.com/2017/09/
Monagin, G. (2017). academia.edu. Retrieved April 7, 2019, from academiaedu: https://www.academia.edu/36404988/BADAN_DAN_JIWA
Komentar
Posting Komentar
Terimakasih telah berkunjung ke blog saya. Kritik dan saran anda sangat membangun dalam pengembangan blog ini.