Orang tua Cenderung Mengorbankan Dirinya Pada Keturunan yang Cacat Dibandingkan Dengan yang Nomal, Mitos atau Fakta?


Parental investment and face symmetry: Why symmetry is an indication of health among species?

Orang tua Cenderung Mengorbankan Dirinya Pada Keturunan yang Cacat Dibandingkan Dengan yang Nomal, Mitos atau Fakta?

            Orang tua senantiasa akan selalu mengorbankan apapun untukkebaikan anak anaknya. Tidak arang bahkan orang tua akan mengesampingkan kepentingan pribadi demi anaknya. Hal tersebut dapat dielaskan melalui teori evolusi yang menyatakan bahwa tindakan orang tua ini adalah demi kelangsungan gen-gen orang tua yang ada dalam diri anak. Orang tua yang mengutamakan kesejahteraan anak dibandingkan dengan kesejahteraan dirinya sendiri, gennya akan mempunyai peluang lebih besar untuk bertahan dan lestari dibandingkan orang tua yang mengabaikan anaknya (Wirawan, 2011). Hal tersebut merupakan bagian dari parental investment.Parental investment dalam biang biologi evolusioner dan psikologi evolusioner adalah pengeluaran orang tua (misalnya waktu, energi, sumber daya) yang bermanfaat bagi keturunan. Investasi orang tua dapat dilakukan oleh laki-laki dan perempuan (perawatan biparental), Perawatan dapat diberikan pada setiap tahap kehidupan anak-anak, dari pra-kelahiran  sampai pasca melahirkan. (Wikipedia, 2018) . Parental investment disini yang akan dibahas berupa pengorbanan orang tua dalam mengasuh anak – anaknya. Pada psikologi evolusioner menjelaskan mengapa orang tua menghabiskan sumber daya fisik dan biologisnya untuk keturunannya adalah sebagai pengaruh dari prinsip seleksi kerabat milik neo-darwinian. Yang menjelaskan bahwa kesesuaian evolusi bukan hanya berasal dari gen - gen dari kitasendiri,namun juga gen - gen yang berasal dari individu yang memiliki hubungan dengan kita. Kondisi kondisi seperti inilah yang akan menyebakan kompetisi antar organisme untuk bertahan hidup dan bereproduksi. Oleh sebab itu organisme yang memiliki sifat yang dinilai lebih menguntungkan akan lebih memungkinkan untuk mewarikan sifatnya ,sedangkan yang dianggap tidak menguntungkan cenderung tidak akan diwariskan peda generasi selanjutnya(Rifki & Mentari, 2014). Konsep ini dapat lebih disederhanakan dengan mengibaratkan anak normal sebagai organisme dengan sifat mengguntungkan dan anak yang memiliki keterbatasan atau cacat sebagai organisme yang tidak menguntungkan.Namun apa jadinya dengan pengorbanan yang dilakukan orang tua apabila anaknya memiliki ketebatasan baik itu fisik maupun mental yang terganggu. Apakah ada perbedaan yang signifikan antara investasi orang tua pada anaknya yang cacat dengan yang normal.Hal  inilah yang kemudian menyebabkan perbedaan parenting dari orang tua antara anaknya yang normal dan cacat. Perbedaan yang timbul pada investasi orang tua pada anaknya biasanya berupa pola asuh dan kasih sayang.Pola asuh yang diberikan orang tua pada anak yang berkebutuhan khusus berbeda dengan anak nomal.Sebelumnya kita harus paham apa yang dimaksud dengan pola asuh. Berikut beberapa pengertian pola asuh dari berbagai sumber.Pola asuh orang tua sendiri merupakan interaksi antara orang tua dengan anak dalam proses pendidikan menuju kemandirian dengan memberi tugas,hadiah,hukuman,maupun perhatian dengan kemampuan yang dimiliki anak tersebut (Rosyidi, 2015). Sedangkan pengertian lain menyebutkan bahwapada dasarnya pola asuh dapat diartikan seluruh cara perlakuan orang tua yang diterapkan pada anak. Banyak ahli mengatakan pengasuhan anak adalah bagian penting dan mendasar, menyiapkan anak untuk menjadi masyarakat yang baik. Pengasuhan terhadap anak berupa suatu  proses interaksi antara orang tua dengan anak. Interaksi tersebut mencakup perawatan seperti dari mencukupi kebutuhan maka mendorong keberhasilan dan melindungi, maupun mensosialisasi yaitu mengajarkan tingkah laku umum yang diterima oleh masyarakat.Pendampingan orang tua diwujudkan melalui pendidikan cara-cara orang tua dalam mendidik anaknya.Cara orang tua mendidik anak nya disebut sebagai pola pengasuhan.(Manga, 2016) . Selain pola asuh dan kasih sayang yang berbeda dari orang tua dengan anak mereka yang normal dan cacat perawatan ,juga menjadi faktor pembedanya. Perawatan pada anak penyandang cacat berbeda dengan anak normal karena mereka membutuhkan perawatan special. Beberapa anak anak penyandang cacat menggantungkan hidupnya pada orang lain dan situasi inilah yang menyebabkan timbulnya kesulitan pada keluarga dari anak – anak penyandang cacat tersebut. (Sen & Yurtsever, 2007) . Pada dasarnya setiap orang tua berharap di anugerahkan anak dengankondisi normal baik fisik maupun psikologis serta pekembangan kognisinya. Dan akan terasa sangat sulit untuk meneima realitas bahwa keturunannya lahir dalam keadaan fisik maupun psikologisnya yang tidak sempurna. Penerimaan tersebut akan semakin sulit dikarenakan anak dengan kondisi yang tidak sempurna membuthkan penanganan khusus dan pola asuh yang berbeda dengan anak yang normal. Pola asuh yang diberikan orang tua pada anak yang berkebutuhan khusus berbeda dengan anak nomal.Pola asuh oran tua sendiri merupakan interaksi antara orang tua dengan anak dalam proses pendidikan menuju kemandirian dengan memberi tugas,hadiah,hukuman,maupun perhatian dengan kemampuan yang dimiliki anak tersebut (Rosyidi, 2015).Penerimaan orang tua disisni berupa bentuk kasih sayang dan pehatian yang besar kepada anak.Dan ditandai dengan sikap menerima keberadaan anak bagaimanapun keadaanya. Sikap menerima tersebut dilakukan dengan apa adanya, menyeluruh, tanpa syarat dan tetap menghargai serta memahami anak tersebut sebagai individu yang berbeda, kemudian secara sukarela dengan penuh kasih sayang tetap mendukung perkembangan anak tersebut. Penerimaan orang tua sangat mempengaruhi oleh perkembangan anak dikemudian hari. Sikap orang tua yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa anaknya memiliki keterbatasan fisik akan sangat buruk dampaknya(Pamungkas, 2018). Sedangkan banyak penelitian menunjukan bahwa sebagian besar orang tua akan mengalami syok dan merasa stress alam menghadapi kenyataan pahit tentang keadaan sang anak. Kmudian yang menadi pertimbangan disini aalah proses seleksi pasangan, karena pada dasarnya manusia cenderung memilih calon pasangan dengan keaaan fisik yang sempurna agar dapat menamin kelangsungan hidup ari mereka.

Kebanyakan dari orang tua tidak menerima keberadaan anaknya yang cacat.Mereka akan cenderung menyayangi anak mereka yang normal dari pada yang cacat. Kebanyakan orangtua yang memiliki anak cacat akan berusaha menyembunyikan anak tesebut dai masyarakat. Hal tersebut merupakan penabaran dari prinsip seleksi kerabat yang sudah dielaskan sbelumnya. Walaupun anak yang cacat masih dalam lingkup gen yang sama , namun pengaruh seleksi organisme uga masih kuat. Orang tua cenderung mengganggap anak cacat sebagai organisme yang tidak mengguntungkan sehingga seringkali teradi penelantaran paa anak yang memiliki keterbatasan. Dan orang tua akan mengganggap anak mereka yang mempunyai kondisi yang nomal sebagai organisme yang mengguntungkan sehingga munculah perilaku tidak adil antara anak yang memiliki keterbatasan dengan anak yang normal. Hal tesebut  juga dipengauhi oleh pandaagan masyaakat tentang orang disabilitas yang dinilai merepotkan orang lain dan selalu dipandang sebelah mata bahkanseering kali diperlakukan secara tidak adil. Bahkan dalam beberapa kasus menunukkan bahwa orang tua yang memiliki anak normal dan cacat akan cenderung menyayangi anaknya yang normal dan mengabaikan anaknya yang cacat. Hal ini mungkin disebabkan oleh pandangan orang tua akan masa depan anak – anaknya.Orang tua dengan anak yang normal mempunyai tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dan menyiapkan lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan anak mereka yang normal. Sedangkan orang tua dari anak yang cacat mempunyai tanggung jawab tambahan, seperti mengajarkan  keterampilan tertentu pada  anak yang cacat dan melakukan fisioterapi. Untuk alasan ini, orang tua dari anak cacat membutuhkan uang tambahan dan waktu (Sen & Yurtsever, 2007).Hal tersebut apat menimbulkan perilaku pilih kasih oleh orang tua kepada anaknya yang normal an yang memiliki keterbatasan. Meskipun terdapat beberapa kesamaan pekembangan ditemukan pada anak cacat maupun tanpa cacat,namun perilaku yang ditampakkan memiliki perbedaan yang signifikan (Spiker, Boyce, & Boyce, 2002). Perilaku yang ditunjukan oleh anak anak penyandang disabilitas berbeda jauh dengan anak normal. Anak dengan kriteria tersebut biasanya menarik dirinya sendiri dari pergaulan karena khawatir akan adanya perilaku diskriminasi yang akan ditujuka padanya ketika berinteraksi dengan orang lain.(Maftuhin, 2016)
Dalam penelitian yang dilakukan oleh (Spiker, Boyce, & Boyce, 2002)menyatakan bahwa orang tua khususnya ibu dari anak cacat akan cenderung memberikan perhatian lebih kepada anaknya yang memiliki kekurangan tersebut melalui berbagai cara. Salah satunya dengan melibatkan anak dengan dunia luar seperti sebuah kelompok social atau biasa disebut sebagai mitra sosial yang menyenangkan,kompeten serta menarik untuk dilakukan. Dengan kata lain dengan meningkatkan keterampilan dan keterlibatan social pada anak yang cacat ,respon positif ibu uga dapat ditingkatkan sehingga mempengaruhi perkembangan anak tersebut. Dalam penelitian tersebut mengatakan bahwa perilaku ibu dapat memancing inisiatif pada anak untuk terus berkembang menadi lebih baik dari sebelumnya.Interaksi orang tua-anak merupakan faktor penting dalam perkembangan anak, khususnya untuk anak-anak cacat atau berisiko mengalami kesulitan perkembangan.Penelitian selanutnya dari (Pamungkas, 2018) menyatakan bahwa tidak ada prbedaan yang signifikan pada penerimaan orang tua yang memiliki anak cacat fisik dilihat dari factor pendidikan orang tua. Adi intinya disini menelaskan bahwa orang tua akan memperlakukan anak mereka yang cacat dan yang normal dengan sama tanpa ada perlakuan pilih kasih pada salah satu anak. Hal ini ditunjukkan dengan hasil uji hitung sebesar -0,807 dengan signifikansi p > 0.05 pada derajat kebebasan 60. Rata-rata skor penerimaan orang tua pada orang tua yang berpendidikan rendah < orang tua yang berpendidikan tinggi, yaitu (96,58) < (98,29). Hasil dari pengukuran penerimaan orang tua yang memiliki anak cacat fisik menunjukkan dari 62 responden, tidak ada responden atau 0% responden yang memiliki penerimaan orang tua yang memiliki anak cacat fisik sangat buruk, kemudian tidak ada responden atau 0% responden yang memiliki penerimaan buruk, lalu tidak ada atau 0% responden yang memiliki penerimaan sedang, sedangkan ada 24 responden atau 38,70% responden memiliki penerimaan yang baik diantara 24 responden tersebut 10 diantaranya orang tua dengan pendidikan rendah dan 14 diantaranya orang tua dengan pendidikan tinggi, kemudian ada 38 atau 61,30% responden yang memiliki penerimaan sangat baik , dari 38 responden tersebut 14 diantaranya orang tua dengan pendidikan rendah dan 24 responden orang tua dengan pendidikan tinggi. Hasil penelitian menunjukan rerata skor penerimaan orang tua, untuk seluruh aspek penerimaan, pada kelompok orang tua berpendidikan tinggi sedikit lebih tinggi dibandingkan pada kelompok orang tua berpendidikan rendah. Penerimaan orang tua juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain, yaitu seperti latar belakang agama yang kuat, sikap masyarakat umum, usia orangtua yang matang dan dewasa serta penerimaan diri dari orangtua itu sendiri.
Dalammenghadapi kenyataan tentang diagnosis kondisi anak yang cacat orang tua akan cenderung mengalami stress bahkan dalam beberapa kasus, beberapa anak berpotensi memiliki angka harapan hidup yang diperpendek. Meskipun beberapa keluarga mungkin menunjukkan kekuatan dalam menghadapi stressor seperti itu, kebutuhan pengobatan, tanggung jawab, dan sumber daya dapat berdampak negatif pada fungsi keluarga. Stres orangtua bisa memiliki berbagai efek pada orang tua dan anak-anak mereka. Sejumlah penelitian telah menelaskan adanya relasi antara stres dalam pengasuhan yang bias merugikanpsikologis anak. Stres pengasuhan juga dapat mempengaruhi kesehatan anakkarena berpotensi mengganggu manajemen kondisi pada anak (Causino & Hazen, 2013) . Penelitian yang dilakukan oleh Causino dan Hazen tersebut menggunakan search strategy dengan database psychInfo,medline, dan IKK dan sekutusastra kesehatan. Serta  pencarian artikel dan jurnal yang dibatasi  dari Januari 1980 hingga Juni 2012 untuk memungkinkan pemenuhan kriteria inklusi.Penelitian selanjutnya adalah tentang penerimaan oang tua tentang anak cacat.Jika sbelumnya ada pendapat bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara factor penerimaan orang tua anak keadaan anak mereka yang cacat di tinau dari segi pendidikan orang tua ,maka terdapat penelitian lain yang menyebutkan orang tua sulit menerima kenyataan akan kondisi anak meeka yang memiliki keterbatasan.Menurut penelitian yang dilakukan olehEsine Sen and Sabire Yurtsever dengan menggunakan Sampel penelitian yang terdiri dari ibu, 103 anak-anak cacat,3-18 tahun,yang trbagi menadi 51 anak-anak dengan cerebral palsy (CP), 35 memiliki cacat intelektual, dan 17 memiliki autism. Dalam penelitian tersebut menyatakan bahwa orang tua memiliki 3 reaksi mengenai anaknya yang cacat. Reaksi pertama adalah reaksi primer yang berupa syok , penyangkalan, menderita dan depresi. Syok merupakan reaksi pertama yang ditampilkan oleh orang tua ketika mereka mengetahui bahwa mereka memiliki anak cacat yang tidak diharapkan. Selanutnya adalah penyangkalan yang berupa rasa tidak terima bahwa anak mereka memiliki kecacatan,uga merupakan mekanisme pertahanan, disebabkan ketakutan dan kekhawatiran tentang masa depan anak, dan tanggung awab yang akan diemban oleh orang tua tersebut. Kemudian Menderita dan depresi,menurut Schmitke & Schlomann, 2002 dalam (Sen & Yurtsever, 2007) memiliki anak yang cacat berarti menghancurkan impian orang tua tentang cita-cita anak mereka. Mayoritas orang tua menjadi depresi ketika mereka tidak memiliki kekuatan akan tanggungawab. Reaksi selanurnya adalah reaksi sekunder yang berupa perasaan bersalah,keraguan, marah dan malu.Perasaan bersalah disebabkan oleh pikiran orang tua bahwa merekalahpenyebab kecacatan tersebut sebagai hukuman tuhan atas kesalahan mereka. Keraguan yang mupakan kebimbangan atas keadaan dapat menimbulkan saling menyalahkan pada orang tua .Marah diarahkan pada anak cacat yang tidak diterima oleh masyarakat.Malu ketika mereka menghadapi kekhawatiran dari orang lain tentang anak-anak mereka. Dan yang trakhir adalah reaksi tersier yang berupa tawar menawar.Tawar menawar disini berupa harapan orang tuaagar anak cacat mereka menjadi seperti anak yang sehat.Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah mayoritas keluarga dengan anak cacatmengalami kesulitan.Dua dari lima ibu  isalahkan oleh keluarga anggota untuk memiliki anak cacat, dan hampir setengah dari individu yang melakukan kesalahan adalah keluarga dari suami mereka. Lebih dari separuh ibu mengalami hal yang dalam kesedihan dan perasaan kewalahan, dan dua pertiga mengalami kemarahan.Para ibu menyatakan bahwa mereka tidak menerima dukungan emosional yang cukup. Sosial mereka kehidupan, kehidupan kerja, dan hubungan keluarga terpengaruh.
Jadi pada dasarnya parental investment kepada anak mereka yang cacat cenderung berbeda dengan anak meeka yang normal. Banyak penelitian menunukaan bahwa oang tua yang memiliki anak cacat cendeung akan lebih stressdalam mengasuhnya daripada mengasuh anak nomal. (masukkan stress orangtua)
Hal tesebut bisa dielaskan menggunakan teori evolusi yang menyatakan bahwa oang tua akan melakukan segala cara demi kelangsungan gen-gen orang tua yang ada dalam diri anak. Orang tua cenderung mengutamakan kesejahteraan anak dibandingkan dengan kesejahteraan dirinya sendiri, gennya akan mempunyai peluang lebih besar untuk bertahan dan lestari. Selain itu menutut teri evolusi inti dari kehidupan adalah kelangsungan hidup gen. Gen dalam diri manusia telah mendorong manusia untuk memaksimalkan kesempatan berlangsungnya suatu gen agar tetap lestari.(Wirawan, 2011).Jadi para orang tua akan lebih mengutamakan tumbuh kembang anaknya yang mempunyai kondisi fisik normal dari pada anak mereka yang mempunyai ketebatasan. Hal tesebutj uga di pengauhi oleh factor finansial.Karena pada umumnya anak dengan ketebatasan fisik membutuhkan perawatan khusus yang tentunya menghabiskan biaya yang tidak sedikit. Alasaan itulah yang membuat kebanyakan oang tua mengabaikan anak yang memiliki keterbatasan fisik dari pada memberi perawatan yang semestinya dilakukan.Anak cacat seringkali ditolak dalam masyarakat. Kebanyakan masyarakat mengganggap bahwa anak cacat hanya merepotkan orang lain,serta mereka selalu di diskriminasi. Hal itulah yang menjadi faktor orangtua dengan anak cacat cenderung menyembunyikan anak tersebut dari muka umum dari pada mengenalkan anak cacatnya ke dunia luar.
Jadi saya kontra dengan penapat bahwa orang tua akan cenderung memberikan perhatian khusus paa anak mereka yang memiliki keterbatasan fisikdaripada yang normal. Karna pada dasarnya setiap orang tua akan merasa malu pada keadaan anak mereka yang cacat apalagiJika anaka tersebut menyebabkaan ketiaknyamana bagi orang lain. Akhirnya akan timbul perilaku pilih kasih antara anak yang normal dan cacat. Pilih kasih tesebut apat berupa perbedaan perhatian ai orang tua pada si anak. Orang tua akan lebih cenderung mengutamakan keseahteraan si anak normal dari pada anaknya yang cacat. Hal itu merupakan efek dari teori eolsi yang menyatakan bahwa orang tua akan cenderung melestarikan keturunannya yang memiliki kondisi paling baik agas dapat melanutkan gen gen dari mereka. Kita bisa  mengambil contoh dari segi pendidikan. Alam menik ananya yang normal orang tua enderung akan memilih menedikasikan dirinya pada pendidikan si anak yang normal ari paa anak yang memiliki keterbatasan isik. Apabila anak normal di berikan pendidikan sampai sarana maka anak dengan kebutuhan khusus akan di bei pendidikan maksimal sampai enang sma,bahkan ai bebeapa kasus menyebutkan anak aat disembunyikan ari unia pendiikan an di perintahkan untuk berian diri dirumah.


Referensi :

 


Causino, M. K., & Hazen, R. A. (2013). Parenting Stress Among Caregivers of Children With Chronic Illness. Journal of Pediatric Psychology, 810-823.
Maftuhin, A. (2016). Mengikat Makna Diskriminasi: Penyandang Cacat, Difabel, dan Penyandang. ResearchGate, 140-162.
Manga, B. (2016, desember 10). academia.edu. Retrieved dessember 12, 2018, from academia.edu web site: http://www.academia.edu/7254005/POLA_PENGASUHAN_ANAK
Pamungkas, E. I. (2018). Perbaan Penerimaan Paa Orang Tua Yang Memiliki Anaka aat Fisik Berdasarkan Faktor PENDIDIKAN oRANG tUA. SURAKARTA: UMS.
Rifki, & Mentari, I. C. (2014). Teori Evolusioner Dan Psikologi Evolusioner. in Slideshare, 2-10.
Rosyidi, F. A. (2015). Pola Asuh Orang Tua Dengan Anak Berkebutuhan Khusus di Pusat Layanan Difabel UIN Sunan Kaliaga Yogyakarta. UIN Sunan Kaliaga Yogyakarta, 1-2.
Sen, E., & Yurtsever, S. (2007). Difficulties Experienced by Families With Disabled Children. JSPN, 238-252.
Spiker, D., Boyce, G. C., & Boyce, L. K. (2002). Parent-Child Interactions When Young Children Have Disabilities. INTERNATIONAL REVIEW OF RESEARCHIN, 35-62.
Wikipedia. (2018, Desember 10). Wikipedia. Retrieved 12 12, 2018, from Wikipedia web site: https://en.wikipedia.org/wiki/Parental_investment
Wirawan, S. (2011). Psikologi Sosial. Salemba Humanika, 23.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

ROADMAP IMPIAN DAN PERJALANAN HIDUP

Tinjauan Kritis Perkawinan Pada Anak

Review Berbagai Eksperimen Tentang Perilaku